(image source: godyalog.blogspot.co.id)
Pendidikan
dipercaya sebagai jalan ampuh untuk mencapai harapan-harapan masyarakat tanpa
terkecuali, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Mencetak generasi
penerus bangsa yang ikut serta membangun dan mencapai kemajuan yang selama ini
didamba-dambakan. Tidak disalahkan ketika muncul sebuah pertanyaan, sudahkan
pendidikan di Indonesia memenuhi harapan masyarakatnya?
Menengok
Indonesia saat ini, bahwa pendidikan di Indonesia sudah sekian lama menjadi
sorotan utama pemerintah untuk dijadikan tolak ukur kemajuan suatu negara
terutama di mata dunia. Kendati demikian, pemerintah gencar melakukan pembahaauan,
terutama pemerataan akses pendidikan. Diantaranya dapat dilihat melalui
terbentuknya lembaga-lembaga yang mengirimkan pemuda Indonesia untuk
mengabdikan diri di pelosok negeri, demi memperbaiki kondisi di daerah tersebut
terutama mengenai masalah pendidikan. Selain itu, berdiri pula
komunitas-komunitas tentang pendidikan, serta rumah-rumah singgah yang
disediakan untuk semua anak yang mempunyai minat belajar salah satunya anak-anak
jalanan. Bahkan berdirinya pendidikan yang disediakan untuk masyarakat
Indonesia yang berkebutuhan khusus atau difabel.
Sejalan
dengan pernyataan di atas, ketika membicarakan pemerataan pendidikan, UIN Sunan
Kalijaga telah ikut andil di dalamnya. Dikatakan demikian, sebab UIN Sunan
Kalijaga membuka lebar kesempatan bagi masyarakat berkebutuhan khusus untuk
dapat mengenyam pendidikan yang sama dengan mahasiswa pada umumnya, baik dari materi perkuliahan maupun fasilitas
yang disediakan tanpa membeda-bedakan. Berlatar belakang dari langkah tersebut,
gelar UIN Sunan Kalijaga sebagai kampus rakyat semakin kuat dengan adanya gelar
baru sebagai kampus inklusi. Sebab telah memenuhi hak-hak rakyat dalam hal ini
mereka para penyandang difabel. Pernyataan ini sejalan dengan UUD RI tentang
SISDIKNAS pasal 3 terkait prinsip penyelenggaraan pendidikan bahwa, “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis
dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa”.
Predikat
sebagai kampus inklusi menunjukkan kepercayaan masyarakat bahwa UIN Sunan
Kalijaga mampu memenuhi hak-hak mahasiswa difabel baik dalam pembelajaran
maupun aksebilitas sarana dan prasarana yang disediakan.
“Kalau
dikatakan UIN sebagai kamus inklusi itu relatif. Dikatakan tidak pantas,
sedikit banyak fasilitas disini sudah tersedia. Kalau dikatakan pantas, dalam
perjalanannya masih kurang, baik pemahaman dari mahasiswa maupun dosen itu
sendiri, tentang bagaimana kampus inklusi atau pengetahuan khusus tentang
inklusi.”
Demikian pernyataan
dari Mukhlisin, jurusan PMI semester 2, salah satu mahasiswa penyandang
difabel. Disisi lain, mengingat difabel sebagai mahasiswa yang mempunyai
kebutuhan khusus sehingga geraknya pun terbatas. Tidak dipungkiri terdapat
kesulitas-kesulitas yang dialami mahasiswa difabel dalam berinteraksi maupun
menggunakan fasilitas yang sudah disediakan untuk mendukung kelancaraan perkuliahan.
Sehingga sangat membutuhkan bantuan orang lain. Terkait kesulitan-kesulitan
tersebut, Mukhlisin menambahkan bahwa,
“Kalo menurut saya,
meminta bantuan kepada orang lain itu tergantung difabel itu sendiri. Biasanya,
kalo saya sendiri memang menggunakan relawan. Jika dilihat dari segi
kemandirian memang sedikit kurang. Misalkan saja, mahasiswa tuna netra yang
mendaftar kuliah dengan jalur mandiri. Pada jalur mandiri terdapat kebijakan,
di mana alokasi waktu disamakan atau harus selesai jam segini. Padahal
menggunanakan teks brailler itu lama, bahkan dosen pun belum tentu tahu
bagaimana menggunakannya. Kalau selama ini saya menggunakan relawan. Okelah
kalau dari segi kemandirian belum, namun efektifitasnya sudah terpenuhi karena
disamakan dengan yang lainnya. Nah, maka memang dibutuhkan relawan”. Kemudian
mnembahkan kembali, bahwa ia sangat mengalami kesulitan ketika akses buku untuk
mengerjakan tugas makalah. Walaupun ada perpustaakaan dan ketika meminjam buku
kepala perpustakaan bisa berbicara, namun harus touch screen. Selain itu, ketika meminjma buku pun harus memasukan
kartu. Fasilitas itu, ia menganggap menganggap tidak ada bedanya untuk
disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa difabel. Sejalan dengan pernyataan
tersebut, kepusaan terhadap fasilitas yang disediakan tergantung dari mahasiswa
difabel itu sendiri, sebab mereka mimiliki kekurangan masing-masing.
Lain halnya dengan apa
yang dikatakan oleh Mahasiswa difabel bernama Anang, prodi PGMI semester enam
yang mengatakan bahwa terkait kepuasaan, cukuplah bisa dikatakan puas. Sebab tersedianya
fasilitas untuk mahasiswa difabel cukup bagus, walaupun tidak sepenuhnya bisa
membantu. Adapun ketika mendaftar menjadi mahasiswa UIN, Anang menggunakan
jalur mandiri atau ujian tes tertulis. Mengingat Anang tidak bisa melakukan
dengan mandiri, Anang menggunakan relawan yang memang sudah ada di UIN sendiri.
Selain itu, alokasi waktu yang disediakan pun ditambah. Sehingga cukup
membantunya dalam pelaksanaan ujian.
Senada dengan
pernyataan di atas, demi kelancaraan belajar para mahasiswa difabel, kampus
yang dijuluki inklusi ini menyediakan difabel
corner, yaitu tempat relawan yang disediakan khusus untuk membantu
mahasiswa difabel ketika akan mencari buku diperpustakaan. Relawan tersebut
akan mencarikan buku yang dibutuhkan mahasiswa difabel, kemudian menmbacakan
bagian yang dibutuhkan. Selian itu, relawan akan (Scan) kemudian diconvert dalam bentuk microsoft word setelah itu barulah dimasukan
dalam laptop mahasiswa difabel yang membutuhkan agar bisa tersebaca dengan
aplikasi suara. Dua mahasiswa di atas yaitu Mukhlisin dan Anang juga mengatakan
hal yang sama,
“Kalau saya mencari
buku untuk mengerjakan tugas, biasanya saya minta bantuan kepada relawan yang
ada di difabel corner. Biasanya mereka akan membantu menscan materi yang saya
butuhkan dan menyalinnya dalam bentuk word, atau sekedar membacakan materi yang
saya butuhkan kemudian saya catat di laptop”.
Paradigma
warga UIN terhadap “INKLUSI”
Membicarakan
paradigma warga UIN sendiri berarti membicarakan semua orang-orang yang
berkecimpung di dalamnya, dalam hal ini mahasiswa UIN terkait inklusi. Kiranya sangat miris, jika
koar-koar mendengar kampus UIN sebagai kampus Inklusi namun tidak mengetahui
apa dan bagaimana kampus inklusi itu sendiri, atau bahkan tidak mengetahui arti
dari kata Inklusi. Cukup memalukan jika menjumpai realita yang demikian. Realitanya
berdasarkan wawancara dari beberapa mahasiswa menyatakan sebagai berikut;
“Saya
pernah denger kata inklusi atau kamus UIN Sebagai kampus inklusi juga belum
tahu. Kalau mahasiswa difabel saya sedikit tahu. Di kelas saya ada satu
mahasiswa difabel. Tetapi saya tidak mengenalnya, baik nama ataupun umur. Kalau
membantu dia, saya juga belum pernah. Soalnya, dia selalu duduk di bangku
belakang, tidak pernah di absen oleh dosen, jadi saya tidak tahu namanya dan
seperti apa tipe orangnya. Kalau di kelas, dia sering sekali menggunakan
laptopnya entah mengerjakan apa dan pendiam”. Demikian pernyataan dari Ana, Mahasiswi
semester 2, jurusan tafsir hadist. Ketidaktahuan mahasiswa terkait inklusi atau
gelar UIN sebagai kampus inklusi juga dikatakan oleh mahasiswi semester 8
jurusan PAI yang tidak mau disebutkan namanya.
“Sepertinya kata
Inklusi itu tidak asing. Kalau difabel saya tahu, soalnya saya sering satu
kelas dengan mahasiswa difabel. Ada beberapa yang aktif di kelas, dan ada yang
memang pendiam sekali. Ketika perkuliahan, terutama saat presentasi mereka
dibantu oleh relawan. Misalnya membantu membawakan buku atau laptop, memasang
proyektor dan lain sebagainya.”.
Hal yang serupa juga
dikatakan oleh mahasiswi bernama Annisa jurusan PBA semester 4. Annisa
mengatakan bahwa, “saya kurang tahu inklusi itu apa, Mba. Tapi kalau mahasiswa
difabel saya tahu. Di kelas saya ada satu mahasiswi difabel namanya mba Arini.
Mba Arini itu kelahirannya 1990an, dan tidak terlalu aktif di kelas, pendiam.
Tetapi kalu dalam perkuliahan, mbaknya juga ikut bergabung utuk diskusi,
mengikuti presentasi, bahkan kalau ada makalah kelompok masih ada pembagian
tugas untuk mbak Arini. Kalau mbak Arini jarang sekali menggunakan relawan,
seringnya sendiri.”
Berdasarkan
pernyataan dari mahasiswa tersebut cukup memberikan pandangan kepada kita
bagaimana kondisi nyata dari mahasiswa UIN sendiri sebagai bagian dari warga
kampus inklusi. Menengok pepatah lama bahwa “ak kenal maka tak sayang”
sepertinya sesuai untuk menggambarkan keadaan tersebut.
Mahasiswa
difabel dan sebuah “harapan”
Setiap
masyarakat pasti tidak akan bisa terlepas dari interaksi. Dengan berinteraksi
atau bersosialisasi menunjukkan kepedulian dan rasa saling membutuhkan antara
sama dengan lainnya. Melalui interaksi pula, akan memperoleh berbagai informasi
dan pengetahuan. Bahkan mempererat tali persaudaraan. Namun, terkadang
interaksi atau hubungan sosial terhambat atau terbatasi karena beberapa sebab.
Kendala tersebut merupakan salah satu yang dialami oleh mahasiswa difabel.
Seperti yang diketathui bersama bahwa mahasiswa difabel adalah mahasiswa yang berkebutuhan
khusus, diantaranya tuna netra, tuna rungu dan lain sebagainya. Oleh karena
itu, tidak memungkiri terbatasnya hubungan sosial seperti halnya siswa lain
pada umumnya.
Senada
dengan penjelasan di atas, Mukhlisin juga berpendapat sama, “Sebenarnya saya
sendiri pengen sama seperti mereka. Tetapi terkadang ketika saya mencoba untuk
bercanda, mereka malah menanggapinya serius, jadi tidak sejalan.” Kemudian,
Mukhlisisn juga mengatakan berusaha untuk berbicara ketika berdiskusi.
Terkadang ada beberapa mahasiswa yang ketika berpendapat justru menjatuhkan.
Selian itu, diluar aktivitas perkuliahan, terkadang ada mahasiswa yang sengaja
berada di depannya, karena dia masih sedikit dapat melihat, dia sengaja
menabraknya. Disisi lain, masih ada mahasiswa yang membantu ketika berjalan,
mencarikan buku dan hal lainnya.
Keinginan
bersosialisasi lebih luas juga terlihat dari pernyataan Mukhlisin yang ingin
bergabung dengan organisasi, salah satunya al-Mizan. Berbeda dengan pernyataan
dari Anang, bahwa dia pernah mengikuti organisasi HMI, namun hanya sebentar dan
keluar. Oleh karena bakatnya memainkan gitar, akhirnya beberapa kali Anang
diminta untuk menjadi pengiring musik di acara seminar-seminar dan acara
lainnya.
*Tulisan lama...





