Entri yang Diunggulkan

Esensi Tahlilan dalam Pancasila Sebagai Jalan Mengokohkan Jati Diri Bangsa

 Nur Tanfidiyah* https://bit.ly/2JLGAxi  “Tidak menjadi kertas-kertas dan debu-debu jalanan yang banyak berterbangan tetapi kura...

Rabu, 22 Mei 2019

Seperti Burung yang Terbang Mengepakan Kedua Sayapnya (Bagian dari Telaah Kitab Ihya Ulumuddiin)



Sabtu pagi menjadi agenda tersendiri yang memang dijadwalkan khusus untuk mengajii dengan pengasuh Yayasan PPWH, dan menggunakan kitab “Ihya Ulumuddin”. Beliau menggungkapkan bahwa “Sesungguhnya perbuatan yang didasari atas pengharapan itu lebih tinggi dari ketakutan. Orang yang senantiasa berharap kepada Allah SWT, hidupnya akan penuh dengan kebaikan-kebaikan, tampak senang dan nyaman.”
 Ketakutan  yang disebut di atas adalah sifat negatif, yaitu takut hartanya akan berkurang, mati, takut tidak berhasil, nilainya jelek dan lain sebagainya. Rasa takut yang demikian merupakan penyakit. Memang, tidak memungkiri manusia dilengkapi perasaan takut, cemas dan khawatir. Sehingga, ketika mendapati perasaan yang demikian, maka obatnya dengan berdzikir.
Kemudian beliau juga menggungkapkan, bahwa “Apabila seseorang berharap atau ingin dekat dengan Allah swt, maka orang tersebut akan berbuat hal-hal yang disenangi oleh Allah. Apabila takut jauh dari Allah SWT, akan memberikan dampak kepada seseorang tersebut untuk selalu menjaga agar tidak berbuat dosa. Harapan dan ketakutan seperti ini, ibarat (Burung yang Terbang Mengepakan Kedua Sayapnya), sayap kanan merupakan rasa ingin dekat dan sayap kiri, rasa tidak ingin jauh dari Allah SWT. Sayap burung tersebut, mengepak dengan seimbang.
Beliau juga menambahkan nasihat lain, “Di Wahid Hasyim tidak hanya mengaji dan mengajar, namun harus ada kemampuan leadership pada diri santri berupa menghimpun kegiatan–kegiatan di pondok pesantren dan masyarakat sekitar. Sehingga, dimana pun kita berada akan eksis atau eksistensi kita akan tetap terjaga. Kemudian, orang yang diberi tanggung jawab harus mampu untuk menerimanya. Tanggung jawab memang sebuah beban, sehingga ketika orang ditunjuk menjadi pimpinan merasa takut. Disinilah Wahid Hasyim melatihnya dengan berproses, menjadi pejuang-pejuang yang siap dengan tanggung jawab terutama menjadi seorang pemimpin. Allah SWT memberikan sesuatu dengan Kun Fayakun, namun kenyataannya kita butuh proses. Memahami proses sama dengan memahami cara beragama.

Kamis, 16 Mei 2019

Esensi Tahlilan dalam Pancasila Sebagai Jalan Mengokohkan Jati Diri Bangsa



 Nur Tanfidiyah*

https://bit.ly/2JLGAxi
 “Tidak menjadi kertas-kertas dan debu-debu jalanan yang banyak berterbangan tetapi kurang berfungsi”
Sepenggal kalimat di atas merupakan cuplikan kalimat yang disampaikan oleh W. S Rendra, seorang dramawan, penyair dan budayawan terkenal. Saat memberi orasi (“khotbah”) kebudayaan di Masjid UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada tahun 1971 dengan memberi sorotan menarik mengenai sosok keadaan Islam Indonesia. Dapat di artikan, Islam sebagai agama yang mayoritas harus mampu menjadi sahabat karib bagi kemanusiaan lain dengan menerima perbedaan, memberi curahan rahmat secara universal dan menumbuhkan jiwa nasionalisme. Salah satunya melalui nilai tradisi kearifan lokal.
Senada dengan ungkapan di atas, bahwa tradisi merupakan salah bentuk kebudayaan dari masyarakat yang dwi tunggal. Ibarat dua sisi mata uang, kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan. Sebab, dimana ada masyarakat pasti memiliki kebudayaan begitu pun sebaliknya. Nilai-nilai luhur yang ada dipercaya memberikan kemaslahatan bagi banyak orang atau mengandung falsafah nasionalisme, tanpa mengenyampingkan posisi Tuhan sebagai tujuan utama, melandasi tradisi tersebut menjadi kebiasaan yang tertanam baik.
Tahlilan adalah salah satu tradisi yang dilakukan bersama oleh komunitas di kampung atau desa yang bernuansa Islami. Secara umum, kampung atau desa di Jawa memiliki berbagai tradisi, salah satunya tradisi religi membentuk kelompok tahlilan. Agar tidak terjadi ketimpangan, perlu kiranya terlebih dahulu memahami arti penting dari ritual tahlilan tersebut.  
Tahlilan, Apa dan Bagaimana?
            Tahlilan berasal dari bahasa Arab, hallala, yuhalillu, Tahlillan, yaitu membaca kalimat Lailaha illallahu, tidak ada Tuhan selain Allah. Tahlilan merupakan suatu ritual keagamaan seremoni kolektif (kelompok). Berdasarkan pengamatan penulis, tahlilan disini bukanlah sebuah ritual keagamaan yang dilakukan untuk memuja orang yang sudah meninggal. Namun,  kepercayaan masyarakat Islam untuk turut serta mendo’akan kepada arwah yang meninggal agar mendapatkan sesuai dengan do’a yang dipanjatkan sekaligus sebagai bentuk hadiah untuk memperingan dosa arwah tersebut. Ritual keagamaan ini, hingga sekarang masih melekat dalam kehidupan sebagian masyarakat muslim yang bermadzab tertentu.
            Disisi lain, tahlilan dilakukan sebagai wujud ke-Tauhidan kepada Allah swt, yang meng-Esa-kan Tuhan. Memperbincangkan Tahlilan, tidak dapat lepas dari tokoh wali sembilan sebagai pencetusnya. Semua wali yang ada di pulau Jawa menyebarkan agama Islam dengan mengolaborasikan nilai-nilai keislaman dengan budaya lokalitas ke Indonesiaan. Mengajarkan membaca tahlil dan tahlilan berupa wirid (membaca dzikir) sesuai dengan kaidah dalam Al-Qur’an dan pelaksanaannya menyesuaikan kebiasaan lokal.

Tradisi Lokalitas yang Unik
            Indonesia sebagai negara yang terkenal dengan ramah tamah (unggah-ungguhnya) dan beragam kebudayaan atau tradisi yang unik. Demikian orang-orang dari berbagai negara mengungkapkannya. Sebagai salah satu wujud konkret keunikan tahlilan, biasanya setiap masyarakat yang hadir tahlilan akan diberikan barang bawaan, masyarakat biasa menyebutnya dengan nama berkat. Makanan tersebut berisi nasi dan lauknya. Bukan sekedar pembagian makanan, namun dari kata berkat sendiri mengandung filosofi, yaitu berasal dari lafadz barokah atau ziyadatul khoir, yang artinya bertambahnya kebagusan atau kebaikan. Maksudnya, bahwa setiap masyarakat yang mengikuti tahlilan, maka akan bertambah kebaikan dalam dirinya dapat berupa amalan religius (ibadah) urusan akhirat maupun duniawi. Kepentingan duniawi, yang menciptakan nilai sosial kemanusiaan, sebagai modal dasar  berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari

Menilik Pandangan Masyarakat yang Berbeda
            Sejenak menilik, seperti yang telah diketahui bahwa Islam mempunyai empat madzhab atau acuan pemikiran. Empat madzab tersebut hadir sebagai wujud keberagaman cara berpikir manusia. Seseorang memilih salah satu dari empat madzhab tersebut yang sesuai pemikirannya. Sependek penulis ketahui, ada pro dan kontra mengenai ritual tahlilan.
            Perbedaan pandangan lantas menuaikan konflik dan fanatisme madzhab dengan menyebut faham sendiri sebagai faham yang paling benar dan yang lain salah. Versi kontra mengungkapkan bahwa tahlilan merupakan sebuah ritual keagamaan yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan hadist. Sehingga mereka menganggap kelompok tersebut melakukan kegiatan menyimpang atau memraktikkan perbuatan syirik. Tidak dapat di pungkiri, berefek pada menurunnya rasa nasionalisme. Pertentangan dan pertikaian antar madzab ini nampaknya harus diterima dari generasi ke generasi, diwarisi secara turun temurun sehingga membuncah, menjadi ajang sektarian di beberapa negara, termasuk negara Indonesia. Sungguh, tindakan yang belum mencerminkan budaya Islami dan memprihatinkan. Padahal Islam adalah agama yang mencintai perbedaan, di jelaskan dalam Al-Qur’an (Q.S. Ar-Rum:30) ayat 31-32 “Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang musyrik, yaitu yang mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka”. Allah swt sengaja menciptakan manusia berbeda-beda agar saling mencintai.  
            Terlalu penat rasanya, jika terus berkutat pada permasalahan ini. Sudah saatnya pertikaian-pertikaian tersebut ditinggalkan oleh umat Islam. Pada saat yang sama perlu dibangun paradigma baru dikalangan umat Islam, bahwa perbedaan pemikiran yang tercermin dari kalangan madzhab merupakan bagian dari khazanah kekayaan intelektual Muslim. Sekaligus sebagai wujud keberagaman tradisi atau keunikan di Indonesia, sejauh tidak keluar dari prinsip dan esensial ajaran Islam sendiri. Demikian seklumit permasalahan Islam menyangkut nasionalisme, yang tidak mungkin penulis jabarkan satu persatu. Masalah tersebut diungkapkan untuk diambil ibrah sebagai bekal kehidupan sehari-hari dan akan datang untuk mengubah kehidupan lebih baik.

Kode Etik Tahlilan Implementasi dari Pancasila
            Setelah sedikit membicarakan tentang masalah krusial di atas, inilah penting untuk diketahui sebagai pokok pembahasan utama. Tahlilan sendiri merupakan sebuah tradisi Islam yang mengangkat rasa bangga dan memiliki terhadap negaranya sendiri. Seperti yang diketahui bersama bahwa, pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang dibuat sesuai dengan budaya dan visi-misi masyarakat Indonesia.
Untuk memperkuat gagasan, penulis melakukan wawancara kepada Samsul Arifin, salah satu masyarakat juga sebagai pengajar atau ustad di Pondok Pesantren daerah Gaten, Condongcatur, Yogyakarta. Pemikiran beliau perihal kode etik tahlilan yang sejalan dengan pancasila, sesuai  gagasan penulis, yaitu sebagai berikut;
Sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa
            Jelas tahlinan adalah pembacaan kalimat toyyibah, meng-Esa-kan Allah swt  dengan menyebut lafadz Lailaha Illallah (tidak ada Tuhan selain Allah swt) serta memujinya dengan berbagai kalimat dzikir.
Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab
            Tahlilan dilakukan secara adil dan beradab, mengimplementasikan secara nyata norma dan nilai-nilai religi, sosial budaya serta kemanusiaan yang sengaja diciptakan oleh anggota dalam kelompok. Ketika tahlil, masyarakat menggunakan pakaian rapi seperti baju koko, pecis dan sarung. Hal tersebut dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada Allah swt serta cermin dari tradisi Islam dalam melakukan ibadah.
Sila ketiga: Persatuan Indonesia
            Adanya tahlilan, mampu menjalin dan mempererat tali persaudaraan. Tempat tahlilan yang bergilir membuat masyarakat dapat saling bersilaturrohim di rumah anggota yang mempunyai shohibul hajat. Selain itu, megandung nilai sosial berupa modal sosial bagi kehidupan komunitas, yang memberikan kekuatan untuk membangun masyarakat dan civil community yang dapat meningkatkan partisipasi. Adapun basis modal sosial adalah kepercayaan, religi dan idiologi, sehingga keterikatan komunitas tersebut membentuk kelompok yang solid, utuh, damai, dan ulet serta kuat. Menumbuhkan perilaku gotong-royong, dengan hadirnya masyarakat untuk membantu mendo’akan orang yang  meninggal.
Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
            Dalam pelaksanaannya, tahlil di Indonesia dilakukan oleh kaum laki-laki. Namun tidak semua kaum laki-laki yang ada dalam keluarga mendapat undangan mengahadiri tahlilan. Disnilah, ayah sebagai pemimpin keluarga untuk mewakilinya, namun dapat digantikan jika berhalangan. Ritual tahlilan di pimpin oleh orang yang dipercaya mempunyai pengetahuan lebih, terutama menyangkut keagamaan. Disisi lain, pekerjaan sosial menjadi pemimpin tahlilan merupakan nilai jual yang tinggi, karena mampu menumbuhkan kepercayaan lebih dari masyarakat.
Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
            Pembagian berkat yang secara adil kepada semua perwakilan masyarakat yang hadir tanpa terkecuali dan isinya pun sama. Keadilan tersebut juga tercermin manakala ada masyarakat lainnya mengadakan hajat, maka dengan kesadarannya akan bergantian untuk menghadiri.
            Demikianlah kode etik tahlilan sebagai wujud implementasi dari pancasila yang amat penting. Terdapat korelasi positif antara aktivitas dunia dan akhirat. Apabila seseorang perilakunya baik di dunia berdasarkan martabat agama dan mengamalkan sesuai dengan keyakinannya dengan baik. Maka akan mendapat buahnya di akhirat nanti, dan saat di dunia menjadi tabungannya. Sebagai salah satu ajaran dasar Islam yaitu social work dalam tradisi unik, yang saat ini justru kurang mendapat perhatian, sebab zaman yang kian pesat. Nilai-nilai tahlilan tersebut, tidak lain untuk menciptakan jiwa nasionalisme menuju kesejahteraan sosial. 

Selasa, 14 Mei 2019

Keutamaan Kalimat “Bismillaah” Telaah dari Kitab Tanqihul Qaul


Nur Tanfidiyah*


            Semua orang Muslim dalam melakukan segala aktivitasnya sangat dianjurkan untuk memulainya dengan membaca basmalah atau dalam bahasa Arab bismillaah. Kalimat pendek yang memiliki banyak makna, arti dan manfaat di dalamnya. Namun, beberapa orang melalaikannya, meremehkan atau sekedar lupa. Padahal dalam kalimat basmalah mengandung keutamaan yang luar biasa.
             Kalimat basmalah disebut “Ummul Kitab” artinya induk dari kitab, atau “Ummul Qur’an” berarti induk al-Qur’an yang terdapat pada permulaan semua surat dalam al-Qur’an. Begitu pentingnya membaca basmalah di setiap aktivitas hingga Allah SWT menjanjikan, “bagi siapa saja yang membacanya 1 kali, maka akan dapat menghapus dosa kecil manusia walaupun dosa tersebut sebesar biji sawi”.
            Kalimat basmalah terdiri dari beberapa kata, dua diantaranya arrohmaan dan arrohiim. Kedua kata ini memiliki arti sama yaitu kasih sayang, namun memiliki perbedaan khusus. Kalimat arrohmaan adalah kasih sayang Allah SWT secara umum untuk semua umat di dunia baik Islam maupun non Islam. Sementara arrohiim adalah kasih sayang Allah SWT yang khusus di akhirat yaitu untuk orang-orang yang masuk surga. Demikian kasih sayang Allah SWT kepada seluruh umatnya, bahkan Allah SWT memberikan keadilan bagi orang-orang yang taat berupa syurga dan limpahan kasih sayang-Nya.
            
Manfaat dari Kalimat basmalah
Dalam kehidupan manusia, kalimat basmalah memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah untuk mengusir syetan sebagaimana batu yang dipanaskan di bara api dan di setiap aktivitas manusia yang diawali dengan kalimat basmalah akan mendapat berkah. Pertama, mengusir syetan. Syetan adalah makhluk ghaib yang berjanji kepada Allah SWT untuk menggoda manusia hingga hari kiamat tiba. Sehingga dalam setiap aktivitas di dunia, syetan hadir untuk membisikan kepada manusia tentang kenikmatan-kenikmatan hidup yang akan membawa kepada kesesatan dan akhirnya masuk ke dalam neraka. Neraka yang berisi api sebagaimana syetan diciptakan. Oleh karena godaan syetan yang cukup melenakan, Allah SWT menganjurkan manusia untuk memulai segala aktivitasnya dengan membaca “Bismillaah”.
            Manfaat kedua, mendapat berkah dari membaca bismillaah. Berkah merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang memiliki filosofi tersendiri. Berkah berasal dari lafadz barokah atau ziyadatul khoir artinya bertambahnya kebaikan atau kebagusan dalam diri seseorang. Maksudnya, bahwa setiap orang yang membaca kalimat basmalah akan bertambah kebaikan dalam dirinya berupa kebaikan untuk amalan religius (agama) maupun duniawi. Amalan religius yang semakin meningkatkan ibadah seseorang dan dekat dengan Allah SWT. Sementara amalan duniawi yang membuat seseorang dipermudah dalam segala urusan atau rezekinya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
            Sejalan dengan hal di atas, nabi Muhammad saw menyatakan, bahwa bagi siapapun ketika membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim”, maka memanjangkan kata “ar rahmaan” sebab di dalamnya mengandung wujud kasih sayang Allah SWT di dunia berupa; Allah SWT menghiasi bumi dengan bintang-bintang yang dimanfaatkan untuk bidang keilmuan, menghiasi malaikat berupa malaikat jibril sebagai malaikat yang menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah SWT di dunia, menghiasi syurga dengan bidadari dan istana yang penuh kenikmatan luar biasa, menghiasi nabi-nabi dengan nabi Muhammad saw sebagai nabi ahiruz zaman dengan keistimewaanya, menghiasi hari-hari dengan hari Ju’at sebagai hari yang penuh berkah, menghiasi malam dengan malam lailatul qodar yaitu malam istimewa atau seribu bulan di bulan Ramadhan. Beberapa riwayat menyatakan, malam ini ada pada tanggal ganjil, namun yang pasti tidak ada satu pun yang dapat mengetahuinya (Wallahu ‘alam), Allah SWT menghiasi bulan dengan bulan Ramadhan, yaitu bulan suci penuh kebaikan, menghiasi masjid dengan ka’bah sebagai kiblat orang Muslim dan Allah SWT menghiasi al-Qur’an dengan “Bismillahir rohmaanir rohiim”.

                                          *Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, 15 Mei 2019                                                       
Membuka kritik dan saran :-) 

Rabu, 08 Mei 2019

Bermedia Sosial dengan Akal Sehat

*Nur Tanfidiyah

Berkembangnya media sosial memberikan kemudahan masayarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Komunikasi dan informasi dapat diakses di mana pun tanpa terikat ruang dan waktu. Sementara, masyarakat menggunakan media sosial sebagai wadah untuk mengekpresikan diri, mendapat pengakuan dari masyarakat luas atau sekedar kepuasan batin. Namun, penggunaan yang mudah dan menjadi kepemilikian pribadi justru melenakan sebagian masyarakat, sehingga menjadi ketergantungan.
Sejalan dengan pernyataan di atas, terbukanya informasi dan komunikasi turut membuka akses bagi kelompok-kelompok tertentu untuk memecah belah persaudaraan. Melalui media sosial  kasus buruk yang bermunculan mulai mengendap dipikiran masyarakat dan menutupi kejernihan berpikir. karena setiap peristiwa dilihat dan dinilai dari sisi negatifnya.
Saat ini bermedia sosial bukan saja tentang bagaimana menggunakannya dengan canggih, tetapi diperlukan akal pikiran yang sehat. Ketika melihat dari realita yang ada, lingkungan memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan masyarakat. Dalam dunia psikologi, bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitarnya. Sementara persepsi mempengaruhi tindakan seseorang. Sama halnya dengan lingkungan saat ini, kasus-kasus buruk, fitnah dan ujaran kebencian yang menyebarluas melalui media sosial mempengaruhi pola pikir dan tindakan masyarakat, sehingga tumbuhlah rasa benci, kecurigaan dan dendam yang menjadi akar terpecah belahnya persatuan bangsa. Akhirnya, media sosial menjadi wadah yang sangat sensitif untuk mengungkapkan suatu peristiwa, sebab masyarakat akan mengartikan dengan sudut pandang masing-masing. Sehingga tidak memugkiri saat ini banyak terjadi kesalahfaham dan memecah perdamaian.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka perlu melakukan restart pada pikiran-pikiran yang sudah kotor tersebut agar berubah sehat. Sebab dengan berakal sehatlah, masyarakat dapat berpikir jernih yaitu mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Adapun mengolah pikiran yang sehat dapat dimulai diri sendiri. Hal ini sejalan dengan kutipan ayat yang menyatakan,
Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum tersebut yang merubah apa yang ada pada diri mereka.” (Q.S. ar-Rad: 11).
            Menguatkan kutipan ayat di atas, beberapa hal pokok yang dapat mengantarkan masyarakat agar berakal sehat diantaranya: Pertama, mendekatkan diri kepada Allah, dengan lebih meningkatkan ibadah. Seringkali masyarakat melakukan keburukan karena lupa dengan Tuhan-Nya. Ketika melibatkan Allah SWT dalam segala hal, akan mengingatkan kita bahwa segala perbuatan kita terawasi. Paling tidak hal sederhana yang dapat dilakukan dengan memulai sesuatu baik membuka media sosial dengan membaca “bismillah”. Sesuatu yang sederhana ini akan menjadi kebiasaan karena mudah diucapkan. Sehingga ketika mendengar isu atau fitnah tidak gegabah mengambil tindakan yang dilumuri oleh nasfu dan emosi dari syetan.
            Kedua, bersilaturrahim. Terkadang pikiran seseorang terkungkung pada suatu hal karena hanya melihat dari satu sudut pandang atau berdasarkan perspektifnya saja. Sehingga ketika menjumpai kasus atau informasi di media masa akan mudah terpengaruh. Namun, lain halnya jika senang bersilaturrahim sekedar berdiskusi dengan orang lain, maka pikiran akan lebih terbuka. Melalui diskusi mengungkapkan apa yang menjadi pertanyaan dibenak seseorang. Adanya silaturrahim selain memperpanjang umur seseorang juga, menjernihkan  sesuatu yang masih buram. Dalam hal ini adalah isu-isu yang terus menyebar di media sosial perlu untuk didikusikan agar tidak terjadi kesalahfahaman yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
Keadaan menuntut kita untuk cerdas bermedia dengan tidak boleh mengabaikan akal sehat.  Akal yang tidak melupakan hakikat manusia sebagai makhluk-Nya untuk menuju jalan kebenaran dan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain sebagai jalan terciptanya persatuan. Melalui cara yang sederhana ini, akan mengarahkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh pada isu-isu yang ada. Tindakan yang kecil akan menjadi sesuatu yang besar jika dilakukan dengan konsisten.

*Menulis adalah sebuah keabadian