Entri yang Diunggulkan

Esensi Tahlilan dalam Pancasila Sebagai Jalan Mengokohkan Jati Diri Bangsa

 Nur Tanfidiyah* https://bit.ly/2JLGAxi  “Tidak menjadi kertas-kertas dan debu-debu jalanan yang banyak berterbangan tetapi kura...

Rabu, 01 Januari 2020

Mewujudkan Pendidikan yang Demokratis

(image source: godyalog.blogspot.co.id)

            Pendidikan dipercaya sebagai jalan ampuh untuk mencapai harapan-harapan masyarakat tanpa terkecuali, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Mencetak generasi penerus bangsa yang ikut serta membangun dan mencapai kemajuan yang selama ini didamba-dambakan. Tidak disalahkan ketika muncul sebuah pertanyaan, sudahkan pendidikan di Indonesia memenuhi harapan masyarakatnya?
            Menengok Indonesia saat ini, bahwa pendidikan di Indonesia sudah sekian lama menjadi sorotan utama pemerintah untuk dijadikan tolak ukur kemajuan suatu negara terutama di mata dunia. Kendati demikian, pemerintah gencar melakukan pembahaauan, terutama pemerataan akses pendidikan. Diantaranya dapat dilihat melalui terbentuknya lembaga-lembaga yang mengirimkan pemuda Indonesia untuk mengabdikan diri di pelosok negeri, demi memperbaiki kondisi di daerah tersebut terutama mengenai masalah pendidikan. Selain itu, berdiri pula komunitas-komunitas tentang pendidikan, serta rumah-rumah singgah yang disediakan untuk semua anak yang mempunyai minat belajar salah satunya anak-anak jalanan. Bahkan berdirinya pendidikan yang disediakan untuk masyarakat Indonesia yang berkebutuhan khusus atau difabel.
            Sejalan dengan pernyataan di atas, ketika membicarakan pemerataan pendidikan, UIN Sunan Kalijaga telah ikut andil di dalamnya. Dikatakan demikian, sebab UIN Sunan Kalijaga membuka lebar kesempatan bagi masyarakat berkebutuhan khusus untuk dapat mengenyam pendidikan yang sama dengan mahasiswa pada umumnya,  baik dari materi perkuliahan maupun fasilitas yang disediakan tanpa membeda-bedakan. Berlatar belakang dari langkah tersebut, gelar UIN Sunan Kalijaga sebagai kampus rakyat semakin kuat dengan adanya gelar baru sebagai kampus inklusi. Sebab telah memenuhi hak-hak rakyat dalam hal ini mereka para penyandang difabel. Pernyataan ini sejalan dengan UUD RI tentang SISDIKNAS pasal 3 terkait prinsip penyelenggaraan pendidikan bahwa, “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa”.
            Predikat sebagai kampus inklusi menunjukkan kepercayaan masyarakat bahwa UIN Sunan Kalijaga mampu memenuhi hak-hak mahasiswa difabel baik dalam pembelajaran maupun aksebilitas sarana dan prasarana yang disediakan.
            “Kalau dikatakan UIN sebagai kamus inklusi itu relatif. Dikatakan tidak pantas, sedikit banyak fasilitas disini sudah tersedia. Kalau dikatakan pantas, dalam perjalanannya masih kurang, baik pemahaman dari mahasiswa maupun dosen itu sendiri, tentang bagaimana kampus inklusi atau pengetahuan khusus tentang inklusi.”
Demikian pernyataan dari Mukhlisin, jurusan PMI semester 2, salah satu mahasiswa penyandang difabel. Disisi lain, mengingat difabel sebagai mahasiswa yang mempunyai kebutuhan khusus sehingga geraknya pun terbatas. Tidak dipungkiri terdapat kesulitas-kesulitas yang dialami mahasiswa difabel dalam berinteraksi maupun menggunakan fasilitas yang sudah disediakan untuk mendukung kelancaraan perkuliahan. Sehingga sangat membutuhkan bantuan orang lain. Terkait kesulitan-kesulitan tersebut, Mukhlisin menambahkan bahwa,
“Kalo menurut saya, meminta bantuan kepada orang lain itu tergantung difabel itu sendiri. Biasanya, kalo saya sendiri memang menggunakan relawan. Jika dilihat dari segi kemandirian memang sedikit kurang. Misalkan saja, mahasiswa tuna netra yang mendaftar kuliah dengan jalur mandiri. Pada jalur mandiri terdapat kebijakan, di mana alokasi waktu disamakan atau harus selesai jam segini. Padahal menggunanakan teks brailler itu lama, bahkan dosen pun belum tentu tahu bagaimana menggunakannya. Kalau selama ini saya menggunakan relawan. Okelah kalau dari segi kemandirian belum, namun efektifitasnya sudah terpenuhi karena disamakan dengan yang lainnya. Nah, maka memang dibutuhkan relawan”. Kemudian mnembahkan kembali, bahwa ia sangat mengalami kesulitan ketika akses buku untuk mengerjakan tugas makalah. Walaupun ada perpustaakaan dan ketika meminjam buku kepala perpustakaan bisa berbicara, namun harus touch screen. Selain itu, ketika meminjma buku pun harus memasukan kartu. Fasilitas itu, ia menganggap menganggap tidak ada bedanya untuk disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa difabel. Sejalan dengan pernyataan tersebut, kepusaan terhadap fasilitas yang disediakan tergantung dari mahasiswa difabel itu sendiri, sebab mereka mimiliki kekurangan masing-masing.
Lain halnya dengan apa yang dikatakan oleh Mahasiswa difabel bernama Anang, prodi PGMI semester enam yang mengatakan bahwa terkait kepuasaan, cukuplah bisa dikatakan puas. Sebab tersedianya fasilitas untuk mahasiswa difabel cukup bagus, walaupun tidak sepenuhnya bisa membantu. Adapun ketika mendaftar menjadi mahasiswa UIN, Anang menggunakan jalur mandiri atau ujian tes tertulis. Mengingat Anang tidak bisa melakukan dengan mandiri, Anang menggunakan relawan yang memang sudah ada di UIN sendiri. Selain itu, alokasi waktu yang disediakan pun ditambah. Sehingga cukup membantunya dalam pelaksanaan ujian.
Senada dengan pernyataan di atas, demi kelancaraan belajar para mahasiswa difabel, kampus yang dijuluki inklusi ini menyediakan difabel corner, yaitu tempat relawan yang disediakan khusus untuk membantu mahasiswa difabel ketika akan mencari buku diperpustakaan. Relawan tersebut akan mencarikan buku yang dibutuhkan mahasiswa difabel, kemudian menmbacakan bagian yang dibutuhkan. Selian itu, relawan akan (Scan) kemudian diconvert dalam bentuk  microsoft word setelah itu barulah dimasukan dalam laptop mahasiswa difabel yang membutuhkan agar bisa tersebaca dengan aplikasi suara. Dua mahasiswa di atas yaitu Mukhlisin dan Anang juga mengatakan hal yang sama,
“Kalau saya mencari buku untuk mengerjakan tugas, biasanya saya minta bantuan kepada relawan yang ada di difabel corner. Biasanya mereka akan membantu menscan materi yang saya butuhkan dan menyalinnya dalam bentuk word, atau sekedar membacakan materi yang saya butuhkan kemudian saya catat di laptop”.
Paradigma warga UIN terhadap “INKLUSI”
            Membicarakan paradigma warga UIN sendiri berarti membicarakan semua orang-orang yang berkecimpung di dalamnya, dalam hal ini mahasiswa UIN  terkait inklusi. Kiranya sangat miris, jika koar-koar mendengar kampus UIN sebagai kampus Inklusi namun tidak mengetahui apa dan bagaimana kampus inklusi itu sendiri, atau bahkan tidak mengetahui arti dari kata Inklusi. Cukup memalukan jika menjumpai realita yang demikian. Realitanya berdasarkan wawancara dari beberapa mahasiswa menyatakan sebagai berikut;
            “Saya pernah denger kata inklusi atau kamus UIN Sebagai kampus inklusi juga belum tahu. Kalau mahasiswa difabel saya sedikit tahu. Di kelas saya ada satu mahasiswa difabel. Tetapi saya tidak mengenalnya, baik nama ataupun umur. Kalau membantu dia, saya juga belum pernah. Soalnya, dia selalu duduk di bangku belakang, tidak pernah di absen oleh dosen, jadi saya tidak tahu namanya dan seperti apa tipe orangnya. Kalau di kelas, dia sering sekali menggunakan laptopnya entah mengerjakan apa dan pendiam”. Demikian pernyataan dari Ana, Mahasiswi semester 2, jurusan tafsir hadist. Ketidaktahuan mahasiswa terkait inklusi atau gelar UIN sebagai kampus inklusi juga dikatakan oleh mahasiswi semester 8 jurusan PAI yang tidak mau disebutkan namanya.
“Sepertinya kata Inklusi itu tidak asing. Kalau difabel saya tahu, soalnya saya sering satu kelas dengan mahasiswa difabel. Ada beberapa yang aktif di kelas, dan ada yang memang pendiam sekali. Ketika perkuliahan, terutama saat presentasi mereka dibantu oleh relawan. Misalnya membantu membawakan buku atau laptop, memasang proyektor dan lain sebagainya.”.
Hal yang serupa juga dikatakan oleh mahasiswi bernama Annisa jurusan PBA semester 4. Annisa mengatakan bahwa, “saya kurang tahu inklusi itu apa, Mba. Tapi kalau mahasiswa difabel saya tahu. Di kelas saya ada satu mahasiswi difabel namanya mba Arini. Mba Arini itu kelahirannya 1990an, dan tidak terlalu aktif di kelas, pendiam. Tetapi kalu dalam perkuliahan, mbaknya juga ikut bergabung utuk diskusi, mengikuti presentasi, bahkan kalau ada makalah kelompok masih ada pembagian tugas untuk mbak Arini. Kalau mbak Arini jarang sekali menggunakan relawan, seringnya sendiri.”
            Berdasarkan pernyataan dari mahasiswa tersebut cukup memberikan pandangan kepada kita bagaimana kondisi nyata dari mahasiswa UIN sendiri sebagai bagian dari warga kampus inklusi. Menengok pepatah lama bahwa “ak kenal maka tak sayang” sepertinya sesuai untuk menggambarkan keadaan tersebut.


Mahasiswa difabel dan sebuah “harapan”
            Setiap masyarakat pasti tidak akan bisa terlepas dari interaksi. Dengan berinteraksi atau bersosialisasi menunjukkan kepedulian dan rasa saling membutuhkan antara sama dengan lainnya. Melalui interaksi pula, akan memperoleh berbagai informasi dan pengetahuan. Bahkan mempererat tali persaudaraan. Namun, terkadang interaksi atau hubungan sosial terhambat atau terbatasi karena beberapa sebab. Kendala tersebut merupakan salah satu yang dialami oleh mahasiswa difabel. Seperti yang diketathui bersama bahwa mahasiswa difabel adalah mahasiswa yang berkebutuhan khusus, diantaranya tuna netra, tuna rungu dan lain sebagainya. Oleh karena itu, tidak memungkiri terbatasnya hubungan sosial seperti halnya siswa lain pada umumnya.
            Senada dengan penjelasan di atas, Mukhlisin juga berpendapat sama, “Sebenarnya saya sendiri pengen sama seperti mereka. Tetapi terkadang ketika saya mencoba untuk bercanda, mereka malah menanggapinya serius, jadi tidak sejalan.” Kemudian, Mukhlisisn juga mengatakan berusaha untuk berbicara ketika berdiskusi. Terkadang ada beberapa mahasiswa yang ketika berpendapat justru menjatuhkan. Selian itu, diluar aktivitas perkuliahan, terkadang ada mahasiswa yang sengaja berada di depannya, karena dia masih sedikit dapat melihat, dia sengaja menabraknya. Disisi lain, masih ada mahasiswa yang membantu ketika berjalan, mencarikan buku dan hal lainnya.
            Keinginan bersosialisasi lebih luas juga terlihat dari pernyataan Mukhlisin yang ingin bergabung dengan organisasi, salah satunya al-Mizan. Berbeda dengan pernyataan dari Anang, bahwa dia pernah mengikuti organisasi HMI, namun hanya sebentar dan keluar. Oleh karena bakatnya memainkan gitar, akhirnya beberapa kali Anang diminta untuk menjadi pengiring musik di acara seminar-seminar dan acara lainnya.

*Tulisan lama...