Budaya “Tawadhu” di
Pesantren Kuatkan Karakter Bangsa
Nur Tanfidiyah, M.Pd.
Membicarakan kearifan lokal (local
wisdom) sejatinya membicarakan keberagaman yang ada di Indonesia. Adapun
negara Indonesia terdiri dari berbagai macam etnis, agama, suku dan budaya yang
unik dengan kekhasannya masing-masing. Karena keberagaman tersebut, Indonesia pantas
mendapat gelar dari dunia sebagai negara ramah dan unik.
Adapun kearifan lokal tersebut menjadi dasar dari
pembentukan ideologi dan falsafah bangsa yang terangkum dalam pancasila dengan
semboyannya “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu jua
yang berangkat dari jati diri masyarakat. Jika direnungi, tidak mudah membangun
sebuah negara dari latar belakang yang berbeda. Namun demikian, berdirinya
negara Indonesia hingga saat ini sebagai wujud bahwa Indonesia memiliki
kekuatan yang luar biasa untuk tetap berdiri dan berjuang di tengah perbedaan.
Bercermin dari Permasalahan di Lingkungan
Melihat realita saat ini, agaknya semboyan dari
Bhineka Tunggal Ika hanya simbol semata. Semakin berkembangnya zaman,
masyarakat justru semakin meninggalkan nilai-nilai luhur tersebut. Mereka sudah
berpaling dari jati diri bangsa, sebab dunia yang terbuka ini amat memberikan
pengaruh yang menuntun masyarakat bersikap intoleran, individualias, ego dan hedonisme.
Sehingga memicu berbagai konflik seperti saling curiga, fitnah, ujaran
kebencian, mengkafirkan orang lain yang tidak sejalan, bahkan berujung pada pertumpahan
darah. Perilku tersebut muncul, sebab tidak ada nilai yang dijadikan pegangan
dalam menyikapi permasalahan.
Sejalan dengan hal itu, permasalahan
di atas justru menjadi tontonan masyarakat sehari-hari baik di lingkungan
sekitar, televisi maupun media masa. Kesannya, masyarakat setiap hari disuguhi
dengan berbagai tayangan negatif dan menutupi kebaikan-kebaikan yang sebenarnya
patut untuk lebih ditampilan dan diapresiasi. Misalnya prestasi-prestasi yang
dicapai untuk dijadikan motivasi atau sikap serta perilaku masyarakat yang baik,
sesuai nilai-nilai luhur bangsa seperti toleransi, gotong royong, kasih sayang
dan sebagainya. Sehingga mampu memperkokoh karakter dan persatuan bangsa.
Budaya
Lokal di Kalangan Pesantren Perkuat Karakter Bangsa
Pesantren dianggap oleh masyarakat luas sebagai
tempat pelestarian budaya lokal. Hingga saat ini masih erat akan budaya-budaya
tata krama, budaya yang bernuansa sosial dan religius. Pesantren dengan
mengutamakan nilai-nilai budaya lokal dan tetap mengikuti keadaan zaman,
sehingga tidak mudah tergoyahkan oleh budaya modernitas yang melenakan atau
ikut terbawa dengan permasalahan yang gencar seperti sikap intoleransi.
Tidak berlebihan penulis beranggapan, bahwa
sejatinya sesuatu yang besar terbangun dari hal yang kecil dan nampak sederhana.
Sebagaimana para filsuf yang
mengatakan, bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal-hal yang kecil. Hal
sederhana tersebut tercemin melalui sikap yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap tersebut tertanam erat di lingkungan pesantren dan patut untuk
dijadikan contoh. Salah
satu budaya tertanam kokoh di pesantren adalah sikap Tawadhu’.
