Entri yang Diunggulkan

Esensi Tahlilan dalam Pancasila Sebagai Jalan Mengokohkan Jati Diri Bangsa

 Nur Tanfidiyah* https://bit.ly/2JLGAxi  “Tidak menjadi kertas-kertas dan debu-debu jalanan yang banyak berterbangan tetapi kura...

Minggu, 31 Maret 2019

Budaya “Tawadhu” di Pesantren Kuatkan Karakter Bangsa


Budaya “Tawadhu” di Pesantren Kuatkan Karakter Bangsa
Nur Tanfidiyah, M.Pd.


            Membicarakan kearifan lokal (local wisdom) sejatinya membicarakan keberagaman yang ada di Indonesia. Adapun negara Indonesia terdiri dari berbagai macam etnis, agama, suku dan budaya yang unik dengan kekhasannya masing-masing. Karena keberagaman tersebut, Indonesia pantas mendapat gelar dari dunia sebagai negara ramah dan unik.
Adapun kearifan lokal tersebut menjadi dasar dari pembentukan ideologi dan falsafah bangsa yang terangkum dalam pancasila dengan semboyannya “Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu jua yang berangkat dari jati diri masyarakat. Jika direnungi, tidak mudah membangun sebuah negara dari latar belakang yang berbeda. Namun demikian, berdirinya negara Indonesia hingga saat ini sebagai wujud bahwa Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk tetap berdiri dan berjuang di tengah perbedaan.
Bercermin dari Permasalahan di Lingkungan
Melihat realita saat ini, agaknya semboyan dari Bhineka Tunggal Ika hanya simbol semata. Semakin berkembangnya zaman, masyarakat justru semakin meninggalkan nilai-nilai luhur tersebut. Mereka sudah berpaling dari jati diri bangsa, sebab dunia yang terbuka ini amat memberikan pengaruh yang menuntun masyarakat bersikap intoleran, individualias, ego dan hedonisme. Sehingga memicu berbagai konflik seperti saling curiga, fitnah, ujaran kebencian, mengkafirkan orang lain yang tidak sejalan, bahkan berujung pada pertumpahan darah. Perilku tersebut muncul, sebab tidak ada nilai yang dijadikan pegangan dalam menyikapi permasalahan.
Sejalan dengan hal itu, permasalahan di atas justru menjadi tontonan masyarakat sehari-hari baik di lingkungan sekitar, televisi maupun media masa. Kesannya, masyarakat setiap hari disuguhi dengan berbagai tayangan negatif dan menutupi kebaikan-kebaikan yang sebenarnya patut untuk lebih ditampilan dan diapresiasi. Misalnya prestasi-prestasi yang dicapai untuk dijadikan motivasi atau sikap serta perilaku masyarakat yang baik, sesuai nilai-nilai luhur bangsa seperti toleransi, gotong royong, kasih sayang dan sebagainya. Sehingga mampu memperkokoh karakter dan persatuan bangsa.

Budaya Lokal di Kalangan Pesantren Perkuat Karakter Bangsa
Pesantren dianggap oleh masyarakat luas sebagai tempat pelestarian budaya lokal. Hingga saat ini masih erat akan budaya-budaya tata krama, budaya yang bernuansa sosial dan religius. Pesantren dengan mengutamakan nilai-nilai budaya lokal dan tetap mengikuti keadaan zaman, sehingga tidak mudah tergoyahkan oleh budaya modernitas yang melenakan atau ikut terbawa dengan permasalahan yang gencar seperti sikap intoleransi.
Tidak berlebihan penulis beranggapan, bahwa sejatinya sesuatu yang besar terbangun dari hal yang kecil dan nampak sederhana. Sebagaimana para filsuf yang mengatakan, bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal-hal yang kecil. Hal sederhana tersebut tercemin melalui sikap yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap tersebut tertanam erat di lingkungan pesantren dan patut untuk dijadikan contoh. Salah satu budaya tertanam kokoh di pesantren adalah sikap Tawadhu’.