*Nur Tanfidiyah
Berkembangnya media sosial
memberikan kemudahan masayarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Komunikasi
dan informasi dapat diakses di mana pun tanpa terikat ruang dan waktu.
Sementara, masyarakat menggunakan media sosial sebagai wadah untuk mengekpresikan
diri, mendapat pengakuan dari masyarakat luas atau sekedar kepuasan batin.
Namun, penggunaan yang mudah dan menjadi kepemilikian pribadi justru melenakan sebagian
masyarakat, sehingga menjadi ketergantungan.
Sejalan dengan pernyataan di atas,
terbukanya informasi dan komunikasi turut membuka akses bagi kelompok-kelompok
tertentu untuk memecah belah persaudaraan. Melalui media sosial kasus buruk yang bermunculan mulai mengendap
dipikiran masyarakat dan menutupi kejernihan berpikir. karena setiap peristiwa dilihat
dan dinilai dari sisi negatifnya.
Saat ini bermedia sosial
bukan saja tentang bagaimana menggunakannya dengan canggih, tetapi diperlukan
akal pikiran yang sehat. Ketika melihat dari realita yang ada, lingkungan
memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan masyarakat. Dalam dunia
psikologi, bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan di sekitarnya. Sementara persepsi mempengaruhi tindakan seseorang.
Sama halnya dengan lingkungan saat ini, kasus-kasus buruk, fitnah dan ujaran
kebencian yang menyebarluas melalui media sosial mempengaruhi pola pikir dan
tindakan masyarakat, sehingga tumbuhlah rasa benci, kecurigaan dan dendam yang
menjadi akar terpecah belahnya persatuan bangsa. Akhirnya, media sosial menjadi
wadah yang sangat sensitif untuk mengungkapkan suatu peristiwa, sebab
masyarakat akan mengartikan dengan sudut pandang masing-masing. Sehingga tidak
memugkiri saat ini banyak terjadi kesalahfaham dan memecah perdamaian.
Berdasarkan kenyataan
tersebut, maka perlu melakukan restart pada pikiran-pikiran yang sudah
kotor tersebut agar berubah sehat. Sebab dengan berakal sehatlah, masyarakat
dapat berpikir jernih yaitu mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Adapun
mengolah pikiran yang sehat dapat dimulai diri sendiri. Hal ini sejalan dengan
kutipan ayat yang menyatakan,
“Allah
tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum tersebut yang merubah apa
yang ada pada diri mereka.” (Q.S. ar-Rad: 11).
Menguatkan kutipan ayat di atas, beberapa
hal pokok yang dapat mengantarkan masyarakat agar berakal sehat diantaranya: Pertama,
mendekatkan diri kepada Allah, dengan lebih meningkatkan ibadah. Seringkali
masyarakat melakukan keburukan karena lupa dengan Tuhan-Nya. Ketika melibatkan
Allah SWT dalam segala hal, akan mengingatkan kita bahwa segala perbuatan kita
terawasi. Paling tidak hal sederhana yang dapat dilakukan dengan memulai
sesuatu baik membuka media sosial dengan membaca “bismillah”. Sesuatu yang
sederhana ini akan menjadi kebiasaan karena mudah diucapkan. Sehingga ketika
mendengar isu atau fitnah tidak gegabah mengambil tindakan yang dilumuri oleh
nasfu dan emosi dari syetan.
Kedua,
bersilaturrahim. Terkadang pikiran seseorang terkungkung pada suatu hal
karena hanya melihat dari satu sudut pandang atau berdasarkan perspektifnya
saja. Sehingga ketika menjumpai kasus atau informasi di media masa akan mudah
terpengaruh. Namun, lain halnya jika senang bersilaturrahim sekedar
berdiskusi dengan orang lain, maka pikiran akan lebih terbuka. Melalui diskusi
mengungkapkan apa yang menjadi pertanyaan dibenak seseorang. Adanya silaturrahim
selain memperpanjang umur seseorang juga, menjernihkan sesuatu yang masih buram. Dalam hal ini adalah
isu-isu yang terus menyebar di media sosial perlu untuk didikusikan agar tidak
terjadi kesalahfahaman yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
Keadaan menuntut kita untuk
cerdas bermedia dengan tidak boleh mengabaikan akal sehat. Akal yang tidak melupakan hakikat manusia
sebagai makhluk-Nya untuk menuju jalan kebenaran dan makhluk sosial yang selalu
membutuhkan orang lain sebagai jalan terciptanya persatuan. Melalui cara yang
sederhana ini, akan mengarahkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh pada
isu-isu yang ada. Tindakan yang kecil akan menjadi sesuatu yang besar jika
dilakukan dengan konsisten.
*Menulis adalah sebuah keabadian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar