Entri yang Diunggulkan

Esensi Tahlilan dalam Pancasila Sebagai Jalan Mengokohkan Jati Diri Bangsa

 Nur Tanfidiyah* https://bit.ly/2JLGAxi  “Tidak menjadi kertas-kertas dan debu-debu jalanan yang banyak berterbangan tetapi kura...

Selasa, 02 April 2019

Membangun Generasi Bangsa yang Beradab Sejak Usia Dini


Didiklah anakmu pada suatu zaman yang bukan zamanmu,
(.....Ali bin Abi Thalib....)
Nur Tanfidiyah

            Saat ini mulai bermunculan permasalahan mengenai pendidikan karakter (character building) yang cukup meresahkan masyarakat, seperti intoleransi beragama, ujaran kebencian, perkelahian dan sebagainya. Pendidikan dengan tujuan mencerdasakan kehidupan bangsa, disebut-sebut sebagai akar permasalahannya. Melihat permasalahan tersebut, kiranya pesan Ali bin Abi Thalib di atas, pantas menjadi cerminan dan renungan bersama untuk memberikan pendidikan terbaik sesuai dengan keadaan lingkungan.
            Pendidikan suatu lembaga yang dipercaya oleh masyarakat yang mampu mencetak generasi bangsa, mendapat tugas besar untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Hal ini sejalan dengan tuntutan pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) yang betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, saleh, sabar, jujur, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi masyarakat yang demokratis dan bertangung jawab. Melalui pasal tersebut menunjukkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya menciptakan manusia yang cerdas secara intelektual,  namun dibarengi akhlakul karimah yang tercermin pada sikap atau perilaku yang baik. Hal tersebut terbingkai dalam pendidikan karakter.
            Menurut Kevin Ryan dan Bohlin (2001) pedidikan karakter sebagai upaya sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti-inti etis. Selanjutnya ia menambahkan, “Character so conceived has threeinterrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior”. Karakter dimulai (good character) meliputi pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan niat (comitment) terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan.
            Dengan demikian, karakter mencakup keseimbangan beberapa aspek, seperti perilaku (behavior), sikap (attitude), berpikir (cognitive) dan kemampuan (skill). Apabila salah satu dari keempat aspek tersebut tidak terpenuhi, maka akan terjadi ketimpangan. Banyak dijumpai orang-orang yang cerdas intelektualnya, namun menjatuhkan orang lain demi sebuah jabatan, kepintaran justru menjadi peluang untuk korupsi dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan perkataan para filosof dahulu, bahwa pengetahuan tanpa moral adalah buta.
            Menamakan pendidikan karakter pada anak bukan suatu hal yang mudah, namun membutuhkan kerja keras dan konsisten. Adapun menurut Santrock, usia dini sangat menentukan perkembangan anak di masa depan. Hal yang sama disampaikan oleh seorang sosiolog George Ritzert, bahwa pendidikan yang diberikan sejak usia dini akan berimplikasi terhadap masa depan anak.  Maka dapat disimpulkan bahwa penanaman karakter paling tepat adalah sejak usia dini.
            Usia dini adalah masa emas (golden age) usia 0-8 tahun, di mana anak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, masa eksplorasi yang senang mencoba dan melakukan sesuatu, dan memiliki daya ingat yang sangat kuat. Sehingga anak mudah meniru dan mengingat semua yang dicontohkan oleh orang dewasa. Apabila perilaku atau sikap yang baik diterapkan secara terus-menerus akan menjadi kebiasaan dan melakat pada diri anak, bahkan hingga anak beranjak dewasa. Ketika cara ini diterapkan secara konsisten, bukan hal yang mustahil mencetak generasi masa depan Indonesia yang ideal.
            Anak usia dini (0-8 tahun) tersebut, masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya. Maka dalam menerapkan pendidikan karakter tersebut, harus  ada kerjasama antara orang tua dan guru. Orang tua yang menjadi madrasah utama penanaman pengetahuan, sikap dan perilaku dasar sebagai bekal untuk bersosialiasi dengan lingkungannya. Sementara lingkungan sekolah menjadi penguat dan mengembangkan perilaku dan sikap yang baik dari keluarga.
            Anak merupakan generasi penerus bangsa masa depan. Kemajuan negara 20 tahun ke depan tergantung dari karakter anak saat ini. Maka sejak dini, anak harus diberikan pendidikan terbaik sesuai dengan tujuan pendidikan. Tidak mungkin bangsa ini dipimpin oleh generasi yang hanya cerdas intelektualnya namun memiliki karakter yang buruk.
                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar