Didiklah
anakmu pada suatu zaman yang bukan zamanmu,
(.....Ali
bin Abi Thalib....)
Nur Tanfidiyah
Saat ini mulai bermunculan
permasalahan mengenai pendidikan karakter (character building) yang
cukup meresahkan masyarakat, seperti intoleransi beragama, ujaran kebencian,
perkelahian dan sebagainya. Pendidikan dengan tujuan mencerdasakan kehidupan
bangsa, disebut-sebut sebagai akar permasalahannya. Melihat permasalahan
tersebut, kiranya pesan Ali bin Abi Thalib di atas, pantas menjadi cerminan dan
renungan bersama untuk memberikan pendidikan terbaik sesuai dengan keadaan
lingkungan.
Pendidikan suatu lembaga yang
dipercaya oleh masyarakat yang mampu mencetak generasi bangsa, mendapat tugas
besar untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Hal ini sejalan dengan tuntutan
pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN)
yang betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, saleh,
sabar, jujur, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi masyarakat
yang demokratis dan bertangung jawab. Melalui pasal tersebut menunjukkan bahwa
tujuan pendidikan tidak hanya menciptakan manusia yang cerdas secara
intelektual, namun dibarengi akhlakul
karimah yang tercermin pada sikap atau perilaku yang baik. Hal tersebut
terbingkai dalam pendidikan karakter.
Menurut Kevin Ryan dan Bohlin (2001)
pedidikan karakter sebagai upaya sungguh-sungguh untuk membantu seseorang
memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti-inti etis. Selanjutnya ia
menambahkan, “Character so conceived has threeinterrelated parts: moral
knowing, moral feeling, and moral behavior”. Karakter dimulai
(good character) meliputi pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan
niat (comitment) terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan
kebaikan.
Dengan demikian, karakter mencakup
keseimbangan beberapa aspek, seperti perilaku (behavior), sikap (attitude),
berpikir (cognitive) dan kemampuan (skill). Apabila salah satu
dari keempat aspek tersebut tidak terpenuhi, maka akan terjadi ketimpangan. Banyak
dijumpai orang-orang yang cerdas intelektualnya, namun menjatuhkan orang lain
demi sebuah jabatan, kepintaran justru menjadi peluang untuk korupsi dan
sebagainya. Hal ini sejalan dengan perkataan para filosof dahulu, bahwa
pengetahuan tanpa moral adalah buta.
Menamakan pendidikan karakter pada
anak bukan suatu hal yang mudah, namun membutuhkan kerja keras dan konsisten. Adapun
menurut Santrock, usia dini sangat menentukan perkembangan anak di masa depan.
Hal yang sama disampaikan oleh seorang sosiolog George Ritzert, bahwa
pendidikan yang diberikan sejak usia dini akan berimplikasi terhadap masa depan
anak. Maka dapat disimpulkan bahwa penanaman
karakter paling tepat adalah sejak usia dini.
Usia dini adalah masa emas (golden
age) usia 0-8 tahun, di mana anak sedang mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang optimal, masa eksplorasi yang senang mencoba dan melakukan
sesuatu, dan memiliki daya ingat yang sangat kuat. Sehingga anak mudah meniru
dan mengingat semua yang dicontohkan oleh orang dewasa. Apabila perilaku atau sikap
yang baik diterapkan secara terus-menerus akan menjadi kebiasaan dan melakat
pada diri anak, bahkan hingga anak beranjak dewasa. Ketika cara ini diterapkan
secara konsisten, bukan hal yang mustahil mencetak generasi masa depan
Indonesia yang ideal.
Anak usia dini (0-8 tahun) tersebut,
masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya. Maka dalam menerapkan pendidikan
karakter tersebut, harus ada kerjasama
antara orang tua dan guru. Orang tua yang menjadi madrasah utama penanaman pengetahuan,
sikap dan perilaku dasar sebagai bekal untuk bersosialiasi dengan
lingkungannya. Sementara lingkungan sekolah menjadi penguat dan mengembangkan
perilaku dan sikap yang baik dari keluarga.
Anak merupakan generasi penerus
bangsa masa depan. Kemajuan negara 20 tahun ke depan tergantung dari karakter
anak saat ini. Maka sejak dini, anak harus diberikan pendidikan terbaik sesuai
dengan tujuan pendidikan. Tidak mungkin bangsa ini dipimpin oleh generasi yang
hanya cerdas intelektualnya namun memiliki karakter yang buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar